Beringsut

June 30, 2017 § Leave a comment

Baginya, hidup seolah kerikil mungil yang terjepit di sela rel kereta api; tidak mampu beranjak, hanya pasrah diinjak

Tak bergerak

Baginya, mencintai seperti angin sendu di Kathmandu; kadang bergelora, lalu reda, tahu-tahu sudah sampai di ujung Peru; kembali mendayu dan merindu

Akhirnya, ya di situ-situ

Baginya, bekerja seperti gangsing yang berputar di tempat; mampat, namun lelah dan tenaga tetap saja makan tempat

Ujung-ujungnya, cuma mengumpat

Baginya, keluarga seperti es goreng yang meleleh ketika dikulum; sensasi manis yang dulunya penuh guratan senyum, kini hanya tinggal kenangan murung

Tak punya siapa-siapa, ya terkurung

Baginya, ia adalah si malang yang dilahirkan Tuhan untuk menjadi pembelajaran; mengenai contoh tak sepadan, untuk jangan diturut, kawan

Sampai Tuhan memanggilnya lagi, dalam gulita yang tak kenal cahaya, dalam hitam yang tak kenal temaram

Bahwa Tuhan menghargai hati compang-campingnya, melebihi semua cinta yang ia pungut di bawah gegap gempita dunia; kolega yang menyuapinya demi udang di balik batunya, atau wanita yang mencicipi gelarnya demi brankar rahasianya

Bahwa ia masih bernilai, melebihi sanak saudara yang terbang setelah ditopang, atau kanan-kiri yang seolah mati setelah ia selesai dikuliti

Bahwa dirinya masih benar-benar utuh, kembali setelah runtuh, perlahan berserah pada doa-doa yang sungguh-sungguh ia unduh,

pada minta, tolong, dan kerendahdirian pada-Nya penuh-penuh

pada bintang, bulan, matahari, dengan suara cinta yang bergemuruh,

sampai ia pun datang dalam ruang-Nya, tanpa peluh.

 

Yogyakarta, 30 Juni 2017

Terus berusaha mencintai Allah

melebihi langit-bumi-dan segala isinya

Advertisements

Si Bahagia

March 20, 2017 § Leave a comment

Ia tersenyum sepanjang hari. Terkulum, santun, dan penuh ketenangan. Bukan senyum yang merekah-ruah, namun yang damai dan menentramkan.

Saya sudah mengamatinya sejak bertahun-tahun lalu. Bahwa ia, meski sering dirundung guncangan hidup -besar atau kecil, sebentar atau lama- masih tetap sama seperti sekarang -sedang mengaduk secangkir kopi di hadapan saya- apa adanya; tampak menikmati racikan kopi Flores hasil ramuan barista di kedai kopi langganan kami sambil sesekali menaikkan alis, girang sendiri, puas dalam setiap isapan kopi hitam pekatnya.

“Kenapa sih, lo tuh senang terus?” Pertanyaan itu saya ucap tiba-tiba. Gemas juga, anak ini seperti pancang yang mengakar sampai kerak bumi di Gunung Himalaya. Tetap berdiri meski badai salju, angin, hujan, jutaan kali menerpa, menghempas, dan berusaha menjatuhkan.

Saya jelas bisa membedakan antara ketenangan yang diusahakan, dengan kedamaian hakiki. This boy is really so into the second. Atau mungkin, awalnya memang diusahakan, lalu mampu menjadi hakiki. Entah.

Ia mengernyit satu detik, mengamatiku. “Maksudnya?”

Maaaan. Look at you.” Aku hampir ragu untuk memulai, namun sorot penasarannya membuatku tetap maju, “Sekolah pakai beasiswa, mati-matian nyari networking sejak kuliah, akhirnya bisa kerja. Tapi, yah, tetap saja merintis karir dari bawah. Masih ngekos, kadang masih part time. Ibu baru saja sakit keras, sekarang homecare. Sekalinya cinta sama cewek, sudah rencana nikah, eh malah ditinggal nikah.”

Mendengar cerocosku yang malah terdengar emosional, ia tergelak. Tidak tampak tersinggung, untungnya. Persahabatan tujuh tahun kami jelas berarti, seperti bicara seenak hati tanpa basa-basi ini. “Santai aja, bro, kenapa lo yang ribut?”

Well, gue cuma nggak ngerti. Ada orang kayak lo gini? Bahkan mungkin ustadz yang sering ceramah jumatan di masjid gue kalah tenang dibanding lo.” Saya tampak kukuh.

Tawanya makin keras. “Bisa aja lo.”

I’m serious.” I truly am. “How can you do that? Happy aaall the time? Gue nggak pernah dengar lo ngeluh. Are you a freaking malaikat turun dari surga yang 100% taat kepada Allah?”

Tawa kencangnya makin mengudara. “Gila lo, berlebihan bener.” Sebelum ia akhirnya menghela napas panjang. Cukup sekali. Lalu berujar, kembali ke fase tenangnya. “Hidup udah ada yang ngatur, man.”

Saya bengong. Menunggu.

Wait, nggak gitu doang, kan?

Melihat saya seolah tak mendapat petunjuk apa pun dari jawabannya, ia melanjutkan. “Yah, begini. Kita mulai dari the very first thing why we’re here. Manusia lahir dari rahim ibu siapa, anak bapak siapa, punya paras seperti apa, laki-laki atau perempuan, jelas bukan kehendak manusia lain, atau siapa pun di dunia ini, selain Sang Pencipta. That’s of course, bagian dari hidup sudah diatur.”

Saya diam. “Agree.”

“Itu mutlak.” Ia tidak berhenti. “Gue lahir ke dunia,dengan status anak petani bertingkat ekonomi bawah, jelas sudah takdir. Untuk kuliah di jurusan ini, misalnya, gue harus mencari beasiswa yang mampu menanggung biaya akademik dan hidup gue sampai lulus. Mutlak juga, bukan? Karena gue nggak bisa memohon sama Pencipta untuk lahir dari keluarga kaya, dan emang udah jalan gue untuk kuliah harus dengan beasiswa.”

Saya mengangguk. “But still, hidup punya pilihan.”

“Selalu. Itu selalu.” Ia tersenyum, menangkap sinyal pemahaman saya, “Gue bisa aja cuma jadi petani, meneruskan kerja bapak, tanpa berjuang mencari beasiswa. Itu pilihan juga. Tapi gue memilih untuk sekolah, dan untungnya, Pencipta memberi jalan, berarti itu takdir hidup gue.”

Saya paham hingga di sini. “Mengenai ibu lo? Atau Arsy, mantan lo itu? Oke, ibu lo sakit, itu bagian dari cobaan. Tapi Arsy ninggalin lo, dan lo diam aja?”

“Ibu gue kena kanker payudara. Kata dokter sebagian besar kasusnya karena genetik. Gue, keluarga gue, sangat kurang pemahamannya akan deteksi dini, pencegahan kankernya.. So when the storms come, ya jelas gue sangat terpukul. And then what, gue dan bapak sudah mencoba berobat, kemoterapi, bolak-balik rumah sakit, penyakit tetap makin parah, dan akhirnya ibu divonis stadium akhir. Dokter pun menyarankan homecare. Menyesal? Nggak. Karena gue dan bapak sudah berjuang sedemikian rupa agar ibu sembuh.” Ia menjelaskan, “Kecuali keajaiban, my mother is dying right at this second. And that really the very most hurtful fact of all.

Saya diam. “I’m sorry..”

Dia lalu tersenyum, “It’s fine. Dan kenapa gue tetap tenang, ya karena itu sudah diatur. Bisa aja nyokap gue menyadari bahwa dirinya risiko kanker sejak muda, lalu nggak perlu sampai stage ini, tapi nyatanya tidak. Kenapa gue tetap happy, why not? Banyak orang yang nggak ketemu ibunya sejak lahir di dunia. I’m still the lucky one, though I have a shorter time to be with her.

Saya bungkam. Pemikirannya ini…

“Arsy. Maan, gue sama Arsy, yah, sudah saling kenal setahunan. But who am I? Suami? Bukan. Keluarga? Bukan. Pacar? What is pacar, afterall. Bukan siapa-siapa. Ketika ada lelaki yang melamar Arsy duluan, lebih siap, dan Arsy mantap. Then why not?

Saya nyaris ternganga. Hampir menelan ludah, saya bilang, “Meski begitu semua selalu ada tata cara. Bagaimana menjaga perasaan orang lain, Man. Arsy menikah hanya berjarak sebulan dari akhir hubungan kalian. Itu nggak sopan.”

Ia tertawa, “Well, kalau Pencipta nggak berkehendak, pernikahan Arsy nggak akan terjadi, bro. He always has the perfect timing. Kalau udah lewat, ya berarti itu takdirnya, itu yang terbaik.” Kemudian ia berujar lembut, “Gue sudah berusaha menanyakan ke Arsy, kalau gue mau serius sama dia, tapi gue belum bisa menikah dalam setahun ini karena keadaan, my mother’s illness. Yet, she thought the opposite. She’s ready for a marriage this year, regardless the man. Ya itu hidup Arsy dan pilihannya. Akhirnya menikah juga sama suaminya sekarang, kan, berarti Arsy bukan jodoh gue. Selesai.”

Saya masih belum puas, “Gue paham. Tapi lo sayang dia. Arsy juga sayang lo, meski yah, ninggalin lo.”

She did. I did.” Ia menggeleng kepala pelan, “Tapi Sang Pencipta tahu, siapa yang terbaik buat lo. Mau sekeras, sesayang apa pun, kalau bukan takdir, ya selamat tinggal. Arsy udah nemu jodoh terbaiknya. Pasti, akan ada juga buat gue. Bukannya manusia selalu diciptakan berpasang-pasangan? Mengenai perasaan, aih, itu kepunyaan manusia. Segala yang punya manusia itu milik Pencipta. Kalau kita kembalikan kepada Yang Punya, pasti diarahkan untuk yang terbaik. Gue, syukurlah, nggak dikasih waktu banyak untuk bersedih karena banyak hal lain yang gue pikirin. Arsy pun begitu sepertinya. We’re still good friends, afterall.”

“Lo gila.” Saya bergumam.

Ia tergelak lagi. Entah kenapa semua yang meluncur dari bibirnya terasa ringan. “Daun yang jatuh dari pohon saja diatur Pencipta, apalagi cuma takdir manusia, Man.”

Saya menggelengkan kepala lama. “So, the key is?

Surrendering. Berserah. Grateful. Bersyukur pada setiap hal kecil. Then you’ll be the happiest person on earth.”

Saya bertepuk tangan. “Lo emang gila.”

Ia terbahak-bahak. “Cinta Sang Pencipta sama kita nggak berbatas, rencana-Nya nggak pernah salah, selalu yang terbaik untuk makhluk-Nya, dan pastinya selalu tepat sasaran. Jadi, tenang aja dalam menghadapi hidup, Bro.”

Saya terkekeh.

Sore itu lebih hangat dari sore-sore saya sebelumnya. Bukan hanya gelagak tawa, canda, seorang teman yang berhati cendekia, atau dua cangkir kopi yang saling beradu aroma. Tapi juga saya, dengan kedua mata yang semakin terbuka pada wacana nyata, bahwa hidup udah ada yang ngatur, Bro.

 

 

Ps. Inspired by sooo many things and talks. Some lines above are real, tho 🙂

 

Hati

October 27, 2016 § Leave a comment

Hati adalah kumpulan hujan, berintik dan menderas

pun setelahnya bisa jadi kemarau, sepi dan parau

Hati kadang kala bisa terbagi, jadi dua: kanan dan kiri

empu cuma seorang diri, pemiliknya bisa saja silih berganti

Hati bisa menari, karena punya peri-peri yang bersembunyi

berdansa hingga kini esok lusa malam siang, tak bertepi

Hati bisa berontak, karena ia hanya riak yang suka teriak

pun terombang-ambing, pun diterjang bising

Hati seringkala meronta, bahkan setelah tertawa

meski sekarang ia nyala, besok bisa-bisa terluka

tapi bila kini penuh derita, besok bisa pula jadi makna

Hati kadang tak bertuan, karena ia cuma labuhan perasaan

pun tak pelak merasa tinggi, berbalut dengki sana-sini

pun bisa merendah, senyum terkembang merekah

Hati paling mudah terbolak-balik,

pun plin-plan seperti akal tanpa tunggangan,

berubah-ubah, juga gegabah

Hati dan rupa-rupanya sering kali jadi cobaan,

meski awalnya adalah fitrah,

berkah manusia beriman

 

maka demi hati manusia harus menyerah

penuh-penuh berserah pada doa-doa,

pada syukur, terima, dan cinta, 

agar Dia tak letih menjaga.

Malang, 27 Oktober 2016

Sebuah catatan untuk hati manusia yang sangat kompleks,

Semoga hati kita senantiasa bersih 🙂

Mencintai

October 24, 2016 § Leave a comment

Sampai beranjak dewasa pun saya selalu berpikir bahwa mencintai berarti mempunyai perasaan berlebih terhadap sesuatu: manusia, binatang, bahkan benda. Pasangan suami-isteri yang harmonis, keluarga yang penuh kasih-sayang, seorang anak perempuan yang menangisi anjingnya yang barusan mati, seorang balita yang tidak mau tidur tanpa mengendus guling bayi, semua dalam mata saya, adalah wujud mencintai.

Saya sering lupa, bahwa mencintai tidak hanya sekedar ber-perasaan, tetapi juga memberi. Dan memang, mana ada cinta yang tulus, jika ia tidak mau memberi? Mana mungkin mencintai dengan damai, jika ia tidak mau memberi? Keduanya bisa ditukar-tukar, karena mencintai jadi memberi, atau karena sering memberi juga jadi mencintai.

Satu yang hampir pasti di dunia: berani mencintai, juga berani kehilangan. Karena memang, pada akhirnya tidak ada yang kekal. Apa atau siapa yang kita cintai, bisa pergi tanpa terpungkiri. Kadang perlahan sehingga kita bisa mempersiapkan diri, kadang tiba-tiba. Kalau begitu, baiknya, bagaimana?

Cintai sesuatu sewajarnya.

Manusia adalah gudangnya perasaan, yang sering kali menjadi cobaan bagi empunya sendiriKadang kala memang itu yang harus dikendalikan: hati, dan atau ego. Saya pun berkali-kali mengalaminya, karena terlalu dalam mencintai, jadi limbung ketika sesuatu itu pergi. Pada akhirnya semua kembali ke waktu, semua butuh proses, hingga kita pulih kembali dari kehilangan setelah mencintai. 

Pelan-pelan saya pun betul-betul merasakan bahwa jangan pernah berharap terhadap manusia. Terhadap sesuatu. Terhadap selain Allah. Karena sifatnya yang sementara.

Lagi-lagi, cintai sesuatu sewajarnya.

Suami saya pernah berkata bahwa di dunia ini tetap ada cinta yang murni, yang tidak bisa dijelaskan dengan ibarat apa pun. Unconditional love. Saya bingung, apa? Ia cuma bilang sambil tersenyum: cinta orang tua kepada anaknya. 

“Di dunia ini kita cuma bisa percaya pada orang tua. Saudara kandung? Belum tentu. Banyak kakak-adik yang tidak rukun hanya karena harta. Oleh karena itu, orang tua harus selalu kita tinggikan.”

Saya jadi teringat perkataan ibu kepada saya, bahwa jangan pernah sekalipun berpikir untuk bisa membalas penuh perwujudan cinta orang tua kepada anak, karena itu nyaris tidak mungkin, dan sesungguhnya, tidak perlu. Karena orang tua memberi tidak untuk dibalas. Karena merea mencintai tanpa perlu dibalas. Dari situ saya bertekad, bahwa jika saya masih memiliki banyak kekurangan untuk menjadi anak yang berbakti, paling tidak, saya tidak menjadi beban untuk mereka. Baik mental, pikiran, maupun materi.

Itu pun terkadang belum kekal. Karena toh banyak juga orang tua yang tega membunuh anaknya –silakan baca berita di koran.

Saya lalu teringat, bahwa ada yang lebih kekal dan tanpa batas di atas itu: cinta Allah kepada makhluk-Nya.

Kadang kita tidak menyadarinya, karena kita lupa untuk bersyukur. Bisa bernapas, misalnya. Bayangkan jika tidak? Seorang teman pernah bilang kepada saya: “Kadang kita diberi cobaan berupa perasaan kehilangan saja seperti sudah mau kiamat, ya, Nae. Bagaimana dengan orang yang buat bernapas saja kesulitan? Ia bahkan bisa kiamat betulan sewaktu-waktu.”

Allah itu Maha Baik. Semua urusan kita sudah diatur oleh-Nya. Kadang kita cuma tinggal menjalani sebaik-baiknya. Ya bersyukur. Ya beribadah. Kadang kita tidak tahu, bahwa kita diberi kehilangan setelah mencintai, untuk mendapatkan pengganti yang lebih baik. Kita diberi rasa kecewa, untuk digenapi dengan yang lebih baik. Kita diberi cobaan, untuk mendekat ke arah-Nya.

Karena apa sih yang dicari di dunia? Hidup bersama orang yang kita cintai?

Bukan, tapi kebahagiaan dunia-akhirat. Bisa dengan orang yang kita cintai, bisa juga tidak, terserah Allah mau mengambil mereka dari genggaman kita atau tidak.

Yang penting: cintai Allah sekuatnya, cintai selain Allah sewajarnya.

Karena ketika kita mencintai Allah, maka Allah akan semakin mencintai kita, dan makhluk-makhluk-Nya pun akan sama.

Berbahagia

October 4, 2016 § Leave a comment

Saya selalu berpikir bahwa bahagia itu mendapatkan apa yang kita inginkan: cinta, benda, apa pun. 

Saya sering lupa, bahwa kebahagiaan selalu berasal dari Allah. Dan yang penting juga, kita ciptakan sendiri. 

Saya kerap terheran pada kisah banyak orang, yang tetap bisa tersenyum di kala bencana, kala sulit, saat sedih. Seperti nenek di pinggir jalan salah satu kenalan ibu, yang tetap bisa berjualan dengan riang meski katanya, telah kehilangan tiga buah hatinya pasca gemba Jogja di tahun 2005. Bersyukur masih diberi hidup oleh Allah, bernapas, bekerja, juga bermanfaat, kata Ibu waktu itu.

Berkaca dari beberapa teman saya ketika SMA, ada dua terdekat yang dulunya bercita-cita menjadi dokter, namun Allah memberi mereka jalan lain. Yang satu kini menjadi arsitek, telah lulus S2 dari universitas ternama di Tokyo. Yang satunya, menjadi pakar teknik sipil, telah lulus S2 di universitas ternama di Belanda, dan proyek besarnya sedang digarap di Jakarta. Ketika bertemu lagi, mereka cuma bisa tertawa, berbahagia pula, “Ini hikmahnya nggak jadi dokter.” Mereka sukses membuat saya iri, akan cerita-cerita pasca mengunjungi banyak negara. Akan banyaknya melihat sisi lain dunia. Yang belum tentu akan terjadi, jika mereka menjadi dokter.

Kita belum tentu mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan yang kita inginkan itu belum tentu membawa kebahagiaan terbaik. 

Saya pada akhirnya belajar bahwa, dasar dari kebahagiaan adalah rasa syukur. Apa pun yang kita punya: rezeki, keluarga, jodoh, karir, anak, rumah, mobil, semuanya, harus disyukuri. Masih untung bisa makan tiga kali sehari, dibanding cuma sekali? Masih untuk bisa bertemu bapak-ibu-adik-kakak, dibanding jauh dari rumah? Masih untung bisa bertemu jodoh, dibanding tidak? Dan masih untung-masih untung lain.

Makin pandai kita bersyukur, makin bahagia, dan makin dicukupkan. Makin sulit kita menerima, maka berarti sebaliknya: kita akan selalu merasa kekurangan.

Tugas manusia di dunia cuma satu bukan? Beribadah.

Salah satunya, ya bersyukur.

Semoga kita termasuk di antaranya. Amin.

 

Untukmu, Mimpi

July 11, 2016 § Leave a comment

Mimpi bagiku adalah kamu. Ya kamu, tempatku menggantungkan cita-cita, keinginan, dan harapan. Kamu, mimpi di awan, yang justru sengaja kuhembuskan untuk menjauh.

Kamu tentu tahu, luar dan dalam. Bahwa tidak sebentar aku mencari, melewati hari penuh teka-teki. Manakah, yang Dia janjikan, menjadi belahan diri. Tidak sebentar juga aku mengerti, bahwa mimpi mungkin tak akan pernah singgah di tengah. Di antara malam dan siang, di antara terbit dan tenggelam.

Tapi, kamu ada.

Kamu mimpi yang nyata.

Sederhana saja. Aku ingin bercengkerama dengan seseorang yang pintar -cerdas tutur kata dan bahasanya, luas wawasannya. Bagiku, diskusi yang hidup adalah bicara empat mata dengannya, hingga waktu seakan cuma hiasan. Kamu, menggenggam mimpiku itu. Karena bertukar pikir denganmu memanglah seperti itu: di tempat itu cuma ada aku dan kamu.

Sederhana saja. Aku ingin melihat dunia, karena manusia tak boleh berhenti melihat kuasa-Nya. Denganmu, aku menapaki tempat-tempat baru yang sebelumnya tak kusangka. Buih ombak di pantai tak terhitung kita jelajahi, gunung-gunung tinggi telah terdaki, cerita serta budaya masyarakat setempat terselami, tempat bersejarah kita hampiri, dan semua tanah-laut telah kita jajaki. Jangan pantang menyerah, kamu berbakat menjadi petualang, katamu padaku. Lagi-lagi, kamu menggenggam mimpiku itu.

Sederhana saja. Aku ingin teman berhobi serupa. Bagiku, membaca lalu saling bercerita tentang sebuah buku adalah langka. Bagimu, itu biasa. Bagi kita, kita sama. Bagiku, menulis adalah bicara; penghilang resah, pencurah dahaga. Bagimu, kadang sama; kau kadang menulis, kadang memang hanya berpendapat saja. Bagimu, tulisanku adalah makna. Kamu, yang hampir semua tulisanku telah kau baca. Ayo, terus menulis! Katamu selalu. Kamu, lagi-lagi menggenggam mimpiku itu.

Sederhana saja. Aku ingin mendekat kepada Pencipta. Bersamamu, kita bersama-sama belajar meningkatkan kualitas diri, untuk dekat dengan-Nya. Kamu memberi contoh, bahwa sholat duha baik untuk dirutinkan. Kamu yang mengajariku, bahwa membaca al-Quran dengan arti adalah jalan menuju pengamalan perintah Allah. Kamu, lagi-lagi menggenggam mimpiku itu, bahwa kamu bisa menjadi imamku.

Sederhana saja. Sedari lama, lelaki yang menggemari dunia fotografi menurutku seksi. Karena seperti kata, jepretan kamera pun bercerita. Kamu bilang, candid senyumku adalah syukur. Aku bilang, ingin rasanya difoto candid oleh fotografer pribadi. Berada dalam frame-mu lalu menjadi cita-citaku. Mungkin ini terdengar seperti keinginan ABG labil setelah menonton film korea, tapi buatku ini sungguhan. Lagi-lagi, kamu menggenggam mimpiku.

Sederhana saja. Aku dan kamu sama-sama suka belajar. Darimu kubelajar makna bersuara, mengutarakan isi hati, menolak yang tak disuka, dan berani. Dariku, kamu belajar bersikap tulus, bersabar, dan berbuat baik. Menurutku, aku banyak belajar darimu. Menurutmu, kita saling membangun menjadi pribadi yang lebih baik. Lagi-lagi, kamu menggenggam mimpi.

Begitu banyak mimpi yang kau genggam tadi, sampai tumpah ruah menghujani lantai dan jerami. Begitu banyak mimpi yang kita ingini, sampai aku malah beranjak pergi.

Ada satu perbedaan besar yang membuat mimpiku dan mimpimu memang hanya sebatas itu. Aku, si penurut, yang menurutmu lelah berjuang. Kamu, si ngotot, yang menurutku kultur kita tak sama. Aku, si pasrah, yang berkata bahwa memang ini jalan Allah. Kamu, si pejuang, yang berkata bahwa manusia berhak menentukan jalannya.

Dan perpisahan ini: buatku akhir, buatmu belum.

Pada akhirnya, semua hanya doa. Aku berdoa, kamu pun juga, meski tak sama. Pada akhirnya semua hanya doa, karena Allah Maha Berkehendak, penggenggam semua jiwa.

Mungkin kita tak berjodoh, mungkin juga ya, meski banyak tidaknya.

Hanya ada satu yang terus kuucapkan padamu, dan juga kamu untukku.

Allah sayang kamu, melebihiku sayang kamu. Semoga yang terbaik untukmu dan untukku.

Yogyakarta, 11 Juli 2016

Kamar paling belakang

 

 

 

 

 

 

 

Kalau Sudah Komplikasi

December 18, 2015 § 2 Comments

Saya sedang bertugas di ruang perawatan bedah ketika hal ini berlangsung. Seorang pasien wanita usia tua dengan ulkus diabetikum di kaki kiri, diedukasi oleh dokter spesialis bedah untuk tindakan amputasi.

Memang sudah indikasi, karena infeksi di luka sudah menggerogoti tendon. Dasar luka pun sudah jaringan tulang. Kulit, jaringan lunak bawah kulit, enyah termakan bakteri. Mulai muncul ulat dan belatung pula dari luka. Ganti perban per hari tak lagi cukup menghalau infeksi. Antibiotik injeksi spektrum luas pun jadi terapi yang-penting-infeksinya-tidak-meluas.

“Dok, kasih sudah obat paling mahal sekali pun. Asal jangan potong kaki isteri saya.” Si Bapak tua, suami pasien, memohon.

Akhirnya dokter spesialis bedah bercerita tentang pasiennya. Seorang mama tua dengan penyakit sama, namun bertahan hidup hingga sekarang. Pasien ini malah merasa bersyukur pasca amputasi, karena ia tak lagi menjadi langganan keluar-masuk bangsal untuk lukanya. Karena ia bisa hidup tenang di rumah menjalani masa tua, sambil melihat anak-cucunya tumbuh dewasa.

“Kalau mau mempertahankan kakinya, di Jakarta mungkin bisa. Dengan operasi canggih, membentuk kembali dia punya pembuluh darah yang rusak karena infeksi. Tapi di tempat seperti ini, makan biaya sekali kalau harus bolak-balik rumah sakit. Jalan terbaik ya potong kaki,” jelas dokter bedah.

Keluarga pasien pun diam. Akhirnya mereka keluar dari nurse station dengan “nanti dulu ya Dok kami rundingkan dengan keluarga”.

Saya sudah berulang kali menemukan kasus seperti ini. Pas koas, pas menjalani internship pun. Semua berawal dari hal yang sama: pasien diabetes melitus (bahasa awam: penyakit gula) tapi tidak minum obat teratur. Alhasil gula darahnya tidak terkontrol. Alhasil dia harus datang bertahun-tahun kemudian dengan komplikasi. Entah luka seperti ini, atau gagal ginjal.

Paling parah, komplikasi akutnya. Saya sudah beberapa kali menangani pasien KAD (ketoasidosis diabetikum), atau gula darah sangat tinggi hingga menyebabkan hemodinamik tidak stabil di IGD. Dengan kata lain, pasien rentan terhadap dehidrasi, lalu tekanan darah dapat turun, mulai syok, dan lagi-lagi meninggal.

Waktu itu pasien saya adalah bapak tua, gula darah 400an, sesak napas (napas kussmaul), dan tekanan darah tidak terdengar. Kesadaran masih ada, meskipun ia sudah gelisah. Untuk mencari jalur infus saja, perawat kesulitan karena denyut nadi mulai lemah. Sial, ini bapak sudah syok. Akhirnya begitu infus masuk, saya lakukan guyur cairan, dan baru setengah botol, pasien sudah apneu (henti napas). Cepat sekali. Setelah penanganan resusitasi jantung paru 20 menit, pasien tidak kembali. Akhirnya meninggal.

Pengalaman baru buat saya, kalau KAD itu segitunya mematikan.

Kalau sudah timbul komplikasi seperti itu, sebagai dokter hanya bisa bilang, “Sudah terlambat, Pak, Bu. Kalau tidak potong kaki nanti infeksi. Kalau infeksi tidak diobati nanti kondisi buruk. Kalau buruk bisa meninggal.”

Atau, “Sudah terlambat, Pak, Bu. Gagal ginjal itu fungsi ginjal sudah buruk. Ginjal sudah rusak. Tidak dapat diperbaiki seperti semula. Hanya bisa dicegah agar tidak makin buruk. Karena sekarang sudah stadium V, harus cuci darah seumur hidup.”

Atau, “Mohon maaf, Bapak sudah tidak ada. Kami sudah melakukan pertolongan sebaik-baiknya. Keluarga mohon tabah.”

Sadis, ya?

Memang. Karena pada akhirnya juga cuma bisa bilang, “Pelajaran ya, Pak, Bu. Keluarganya yang nanti ada sakit gula, diobati teratur.”

Makanya saya sering berkoar-koar kalau sudah bertemu pasien penyakit gula yang masih awal terdiagnosis di poli. Kontrol teratur ya, Pak. Obat diminum seumur hidup ya, Pak. Komplikasi gula berat lho, Bu, bisa ini itu, bisa buat luka, bisa gagal ginjal. Mumpung masih belum kenapa-kenapa. Mumpung masih awal, nanti 10-15 tahun lagi baru terasa kalau bapak ibu kontrol tidak teratur. Dkk. Dst.

Kadang seperti itu saya lanjutkan. Bahwa banyak pasien gula berumur panjang karena kontrol teratur, gula darah baik. Bahwa banyak pasien gula namun penyakitnya tidak menurun ke anak-anaknya, karena penerapan gaya hidup baik dan menjalankan pola hidup sehat. Seperti, menjaga pola makan, dan aktivitas fisik teratur.

Sebagian besar dari mereka mengangguk paham. Kalau sudah begitu, saya berdoa semoga pasien-pasien tersebut betulan paham.

Tak jarang juga saya dan beberapa teman ketika jam poli usai saling cerita.

“Capek ya cuy edukasi pasien. Apalagi kalau nanti pada ngeyel.”

“Ya gimana lagi yang penting kita sudah menjalankan tugas, toh.”

Ya gimana lagi memang tugas dokter itu berkomunikasi, toh. Ya gimana lagi memang tugas dokter itu edukasi, toh.

Lagi-lagi sebuah catatan untuk diri sendiri. Mari, kita lebih perhatikan kesehatan diri, maupun keluarga kita. Semoga kita selalu dilindungi Allah.